Membedakan Dua Jenis Angrek Hantu (Chiloschista Vs Taeniophyllum)

Daun oval memanjang dengan tulang daun khas tanaman anggrek tidak terlihat padanya. Itulah sebabnya Chiloschista sp kerap disebut asian ghost orchid  alias anggrek hantu asia. Disebut hantu karena kerap tak terlihat, padahal ada. Sementara nama Asia disematkan karena anggrek itu banyak dijumpai di benua terbesar di dunia itu.

Hobiis di tanah air menyebutnya anggrek akar. Disebut demikian karena anggota famili Orchidaceae itu lebih sering ditemukan hanya berupa akar yang tumbuh menggurita mencengkeram tanaman inang. Ada juga yang menyebutnya leafless orchid alias anggrek tanpa daun.

Bunga mungil

Bunga Chiloschista umumnya berukuran mungil. Contohnya C. ramifera yang diameter bunganya hanya 1 cm. Namun, sekali berbunga jumlahnya bisa puluhan. Bunga tersusun pada tangkai yang panjangnya bisa mencapai 33 cm. Tangkai bunga muncul  dari pangkal akar. Meski berukuran mungil, penampilan bunga ramifera terlihat cantik. Sepal dan petal tersusun menyerupai bunga sakura. Pada bagian tengah sepal dan petal terdapat kumpulan titik-titik berwarna cokelat. Sedangkan labellum alias bibir bunga berbentuk menyerupai kantung berwarna putih. Yang istimewa, bunganya juga harum dan tahan lama. Bunga bisa tahan hingga 6 – 8 minggu.

Di Indonesia sebetulnya tumbuh beberapa jenis anggrek hantu. Salah satunya Chiloschista javanica yang endemik Pulau Jawa bagian timur. Ia banyak dijumpai di hutan berketinggian 300 – 1.000 m dpl. Bentuk bunganya hampir menyerupai ramifera. Hanya saja bentuk sepal dan petal terlihat lebih ramping dan terdapat bulu-bulu halus. Ukuran bunganya sedikit lebih kecil ketimbang ramifera, hanya berdiameter 9 mm. Bunga tersusun pada tangkai sepanjang 15 – 20 cm dan wangi.

Di Pulau Jawa juga tumbuh anggrek akar lain yang bergenus Taeniophyllum. Contohnya Taeniophyllum biocellatum. Di  alam ia lebih sulit dijumpai karena sosok tanaman jauh lebih mungil ketimbang chiloschista. Penampang melintang akar pipih dan pendek. Sedangkan akar chiloschista cenderung bulat dan panjang.

Bunga taeniophyllum juga jauh lebih mungil dibandingkan dengan chiloschista. Diameter bunga hanya 3 mm yang tersusun pada sulur sepanjang 3,5 cm. Komposisi warna bunga kontras: sepal dan petal berwarna kuning, bibir putih, dan kepalasari ungu. Pada bagian tengah bibir yang berbentuk kantung terdapat 2 bundaran polen yang terbentuk seperti mata. Dari bunga yang mungil itu menguar aroma wangi yang lembut.

Klorofil

Taeniophyllum juga banyak tumbuh di hutan-hutan di Kalimantan Barat dan Malaysia, yaitu Taeniophyllum obsutum. Anggrek itu lebih mudah dijumpai karena berbunga sepanjang tahun.  Ukuran bunga sedikit lebih besar ketimbang T. biocellatum yakni berdiameter 5 mm. Setelah bunga gugur, tangkai bunga tidak layu, tapi terus bertambah panjang dan memproduksi bunga.

Di habitat aslinya, anggrek akar biasanya menempel di batang pohon. Meski menempel di pohon lain, mereka tak mengambil makanan dari pohon inang. Anggrek Hantu ini mampu memproduksi makanan sendiri.  Akar anggrek hantu berperan ganda. Selain untuk melekatkan diri pada pohon inang, akar juga memiliki klorofil seperti pada daun. Berkat zat hijau daun itu ia mampu berfotosintesis untuk memproduksi makanan sendiri dan bertahan hidup, meski nyaris tanpa daun.

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *